Motivasi Kuliah

motivation

Apa seharusnya yang menjadi motivasi untuk kuliah? Kata ajaib untuk menjawab apa motivasi kuliah kita adalah: Mengapa. Mengapa harus kuliah? Mengapa tidak memilih jalur selain kuliah? Jawaban dari pertanyaan “mengapa” ini sangat beragam, namun hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya.

Secara umum, motivasi ada dua jenis, ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri kita, sedangkan motivasi intrinsik sebaliknya, berasal dari dalam diri kita. Jika dibandingkan di antara keduanya sebenarnya tidak ada yang lebih baik karena keduanya saling melengkapi.

Jika jawaban “mengapa kuliah” kita mencakup hal-hal di luar diri seperti prestise, kekayaan, karir keren, itu adalah motivasi eksternal. Namun jika jawaban kita seperti belajar dan tumbuh, dapat berkontribusi dan bermanfaat lebih banyak bagi orang lain, ini adalah motivasi internal. Kita tidak perlu menjadi terlalu idealis dan filosofis dengan merumuskan tujuan kuliah untuk “mengubah dunia” atau semacamnya, jika kita hanya bermaksud untuk mengecilkan tujuan-tujuan praktis pragmatis “bisa mendapatkan pekerjaan bagus bergaji tinggi.” Sebenarnya keduanya bisa berjalan selaras, coba saja gabungkan: “mendapatkan pekerjaan untuk mengubah dunia di perusahaan multinasional sekaligus mendapatkan gaji tinggi.” Bisa kan?

Setelah menjawab pertanyaan mengapa, maka selanjutnya adalah hal-hal taktis dan teknis. Kita mungkin belum banyak tahu tentang hal-hal taktis dan teknis ini, namun langkah pertama adalah bertanya: Bagaimana? Bagaimana cara kita untuk meraih tujuan kuliah kita? Bagaimana cara kita agar kuliah menjadi sarana untuk mewujudkan tujuan ekstrinsik dan intrinsik dalam motivasi kita di atas? Kemudian kita bisa mencari tahu sendiri caranya, bertanya pada orang lain, mencoba-coba sendiri mana cara yang berhasil (dan mana cara yang gagal). Pada akhirnya, kesuksesan bukanlah sesuatu yang dapat dijamin. Dan mungkin juga apa yang kita anggap hari ini sebagai kesuksesan bisa berubah. Yang paling penting adalah kita benar-benar memiliki ide tentang kesuksesan kita sendiri.

Motivasi itu seperti merunut akhir dari jalan perjuangan yang kita tempuh. Kita yakin untuk masuk kuliah dan melakukan apa yang diperlukan untuk kuliah karena yakin bahwa ada hasil yang akan kita dapatkan (atau sesuatu yang dapat kita berikan) di saat atau setelah kita kuliah. Jadi dalam pandangan seperti ini, kuliah bukanlah tujuan, namun sebagai sarana untuk meraih tujuan yang lebih dari sekedar kuliah itu sendiri.

Ada beberapa tulisan blog yang bisa kita baca tentang motivasi kuliah ini, salah satunya di sebuah artikel blog Gustaviana Farisi. Di tulisannya itu, dia membagi motivasi kuliah menjadi tiga: sebagai prestise, sebagai jembatan untuk profesi, dan sebagai sarana untuk meningkatkan potensi berkontribusi yang lebih besar. Menurutnya ketiga hal tersebut adalah muara dari berbagai motivasi kuliah yang mungkin.

Prestise

Prestise adalah kebanggaan yang mewakili jiwa muda sebagai mahasiswa (atau calon mahasiswa). Keinginan untuk bergaul dengan sesama dan mencari kawan sebanyak-banyaknya adalah beberapa di antara banyak motivasi yang terkadang hadir di dalam benak. Termasuk di antaranya kebanggaan bisa masuk ke universitas/jurusan favorit.

Siswa yang memiliki motivasi prestise ini memiliki empat jenis patokan dalam memilih targetnya:

Pertama, patokan perguruan tinggi. Semisal; “Kalau gak kuliah di ITB, tidak mau! Jurusan apa saja terserah, yang penting ITB!” Jadilah fokus usahanya hanya untuk masuk ITB.

Kedua, patokan jurusan. Semisal; “Kalau gak kuliah di Kedokteran Umum, tidak mau! Universitas mana saja terserah, yang penting Kedokteran Umum!” Maka dia akan berusaha mati-matian untuk masuk ke Kedokteran Umum.

Ketiga, patokan kota. Semisal, “Kalau gak kuliah di Surabaya, tidak mau! Universitas mana saja, jurusan apa saja, yang penting di Surabaya!” Maka dia cenderung mencari perguruan tinggi yang ada di Surabaya saja.

Keempat, patokan prospek. Semisal, “Kalau gak kuliah di kedinasan/yang menjamin jadi PNS, tidak mau! Di mana saja boleh, asal kedinasan dengan prospek jelas!” Jadilah dia akan berusaha agar diterima di jurusan dengan prospek jelas seperti yang dimaksud.

Profesi

Profesi adalah tujuan berupa hasil dari proses kuliah. Contoh konkretnya seperti ijazah, gaji, jaminan kesejahteraan hidup, menjadi PNS, mendapat pekerjaan layak, dsb. Sangat logis jika banyak calon mahasiswa memilih jurusan berdasar pertimbangan profesi. Hal ini karena logika mereka adalah ‘karir menjanjikan kesejahteraan hidup, dan kesejahteraan hidup menjanjikan kebahagiaan’.

Kontribusi

Mahasiswa (atau calon mahasiswa) yang ingin berkontribusi tidak terlalu memikirkan hal-hal teknis yang akan dibebankan padanya –dalam hal ini berupa pilihan jurusan-. Walaupun dia memiliki kecenderungan yang membuatnya merasa nyaman untuk berkontribusi di salah satu jurusan yang dia inginkan, andai Allah memberikan jalan lain, ia juga akan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Singkatnya, apabila ia ditempatkan pada jurusan yang ia sukai, alhamdulillah. Kalau tidak, ya alhamdulillah juga. Bumi Allah sangat luas untuk dijadikan tempat berkontribusi dan tidak harus melalui jalan kuliah.

Targetnya tidak terpatok pada batas kelulusan saja, lebih tinggi lagi. Yaitu apa yang akan dilakukan setelah lulus. Bahkan lebih tinggi dari itu.. apa yang akan dilakukan setelah bekerja? Apa yang akan dilakukan setelah berkeluarga? Apa yang akan diberikannya pada masyarakat? Apa yang akan diberikannya pada umat? Apa yang akan diberikannya pada dunia?

Tulisan lain yang membahas tentang motivasi kuliah ini ada di blognya Dimas Hendrian Nugraha. Sepertinya ini tugas kuliah yang diposkan kembali ke blog.

Dia membagi motivasi intrinsik dan ekstrinsik untuk kuliah seperti berikut:

Motivasi intrinsik:

1. Menanamkan kesadaran bahwa belajar adalah suatu kebutuhan yang harus dilakukan sepanjang hidup.
2. Menentukan tujuan yang jelas apa yang akan dicapai setelah lulus kuliah.
3. Menentukan point-point tertentu tentang tujuan apa yang ingin dicapai dalam waktu dekat.

Motivasi ekstrinsik:

1. Dukungan moral dan material dari lingkungan sekitar terutama keluarga.
2. Reputasi universitas di mata masyarakat.
3. Nilai yang baik sebagai acuan untuk terus semangat.
4. Lingkungan kampus dan teman-teman kuliah.

Menurutnya, motivasi adalah semangat harus selalu ada dan dipelihara, agar senantiasa hidup menggelora dalam jiwa kita. Kalau kita kehilangan semangat, badan rasanya lemas, malas, tidak bergairah, tidak berdaya bahkan merasa tidak berharga, sungguh ini sangat merugikan.

Kalau kamu, apa motivasi kuliahmu?

arief rakhman

arief rakhman

Seorang muslim yang juga pembaca, pembelajar, dan berusaha untuk menulis agar bisa meneber lebih banyak manfaat.